Oleh: Hendri Gunawan
Di tengah gemerlap nama-nama besar pahlawan nasional, ada satu sosok putra Minangkabau yang jasanya begitu besar bagi Republik Indonesia, namun namanya nyaris luput dari ingatan publik. Dialah Samaun Bakri, pejuang kelahiran Kurai Taji, Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada 28 April 1908.
Samaun Bakri bukan sekadar pejuang biasa. Ia adalah seorang aktivis, jurnalis, sekaligus tokoh pergerakan nasional yang mengabdikan hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia. Keteguhan sikap, kecerdasan, dan loyalitasnya menjadikan dirinya sebagai salah satu orang kepercayaan Presiden Soekarno pada masa-masa paling menentukan dalam sejarah bangsa.
Melalui dunia jurnalistik, Samaun Bakri menyuarakan semangat antikolonialisme. Pena menjadi senjata perjuangannya sebelum akhirnya ia terjun langsung dalam berbagai misi penting negara. Keberaniannya dalam menyampaikan gagasan menjadikannya tokoh yang disegani di kalangan pergerakan nasional.
Salah satu peran paling bersejarah yang diembannya adalah ketika dipercaya Bung Karno menjemput Fatmawati dari Bengkulu ke Jakarta. Ia turut mengawal perjalanan sejarah yang kemudian melahirkan pasangan Proklamator Republik Indonesia. Perannya membuktikan bahwa Bung Karno menaruh kepercayaan penuh kepada putra Kurai Taji tersebut.
Setelah Indonesia merdeka, pengabdian Samaun Bakri tidak berhenti. Ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Residen Banten dan terus menjalankan berbagai tugas penting negara di tengah situasi revolusi yang penuh ancaman. Loyalitasnya kepada Republik tidak pernah surut.
Pengabdian itu akhirnya dibayar dengan nyawa. Pada 10 Oktober 1948, Samaun Bakri gugur di Bukit Punggur, Lampung, ketika menjalankan misi negara mengawal pengumpulan dana emas untuk pembelian pesawat pertama Republik Indonesia. Ia wafat sebagai syuhada bangsa, mengorbankan jiwa demi tegaknya negara yang baru lahir.
Ironisnya, nama Samaun Bakri belum sepopuler jasa yang telah diberikannya. Generasi muda Indonesia, bahkan masyarakat Sumatera Barat sendiri, masih banyak yang belum mengenal sosok luar biasa ini. Padahal, sejarah bangsa tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh yang sering disebut dalam buku pelajaran, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dalam senyap dengan dedikasi tanpa batas.
Sudah saatnya masyarakat Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Padang Pariaman, menghidupkan kembali jejak perjuangan Samaun Bakri. Pengusulan gelar Pahlawan Nasional, penamaan jalan, pembangunan monumen, hingga memasukkan kisah perjuangannya dalam muatan lokal pendidikan merupakan langkah nyata untuk menghormati jasa beliau.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Mengenang Samaun Bakri bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menanamkan nilai keberanian, kejujuran, loyalitas, dan pengabdian kepada generasi penerus.
Samaun Bakri telah mengorbankan hidupnya untuk Republik. Kini, tugas kita adalah memastikan namanya tetap hidup dalam sejarah Indonesia.
— Hendri Gunawan
